AL-QURAN INDONESIA

An-Naba’

Berita Besar | Mekkah | 40 Ayat

Surah An-Naba’ memiliki arti Berita Besar. Surah An-Naba’ diturunkan di Mekkah. Surah ini berjumlah 40 Ayat.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 
عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ
'amma yatasā`alụn
[1] Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

 
عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلْعَظِيمِ
'anin-naba`il-'aẓīm
[2] Tentang berita yang besar (hari kebangkitan),

 
ٱلَّذِى هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
allażī hum fīhi mukhtalifụn
[3] yang dalam hal itu mereka berselisih.

 
كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
kallā saya'lamụn
[4] Tidak! Kelak mereka akan mengetahui,

 
ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
ṡumma kallā saya'lamụn
[5] sekali lagi tidak! Kelak mereka akan mengetahui.

 
أَلَمْ نَجْعَلِ ٱلْأَرْضَ مِهَـٰدًا
a lam naj'alil-arḍa mihādā
[6] Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,

 
وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا
wal-jibāla autādā
[7] dan gunung-gunung sebagai pasak?

 
وَخَلَقْنَـٰكُمْ أَزْوَٲجًا
wa khalaqnākum azwājā
[8] Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan,

 
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
wa ja'alnā naumakum subātā
[9] dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat,

 
وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا
wa ja'alnal-laila libāsā
[10] dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian,

 
وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا
wa ja'alnan-nahāra ma'āsyā
[11] dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan,

 
وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا
wa banainā fauqakum sab'an syidādā
[12] dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh,

 
وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا
wa ja'alnā sirājaw wahhājā
[13] dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari),

 
وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلْمُعْصِرَٲتِ مَآءً ثَجَّاجًا
wa anzalnā minal-mu'ṣirāti mā`an ṡajjājā
[14] dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya,

 
لِّنُخْرِجَ بِهِۦ حَبًّا وَنَبَاتًا
linukhrija bihī ḥabbaw wa nabātā
[15] untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman,

 
وَجَنَّـٰتٍ أَلْفَافًا
wa jannātin alfāfā
[16] dan kebun-kebun yang rindang.

 
إِنَّ يَوْمَ ٱلْفَصْلِ كَانَ مِيقَـٰتًا
inna yaumal-faṣli kāna mīqātā
[17] Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan,

 
يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri fa ta`tụna afwājā
[18] (yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong,

 
وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتْ أَبْوَٲبًا
wa futiḥatis-samā`u fa kānat abwābā
[19] dan langit pun dibukalah, maka terdapatlah beberapa pintu,

 
وَسُيِّرَتِ ٱلْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
wa suyyiratil-jibālu fa kānat sarābā
[20] dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.

 
إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
inna jahannama kānat mirṣādā
[21] Sungguh, (neraka) Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi neraka),

 
لِّلطَّـٰغِينَ مَـَٔـابًا
liṭ-ṭāgīna ma`ābā
[22] menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.

 
لَّـٰبِثِينَ فِيهَآ أَحْقَابًا
lābiṡīna fīhā aḥqābā
[23] Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama,

 
لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا
lā yażụqụna fīhā bardaw wa lā syarābā
[24] mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,

 
إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
illā ḥamīmaw wa gassāqā
[25] selain air yang mendidih dan nanah,

 
جَزَآءً وِفَاقًا
jazā`aw wifāqā
[26] sebagai pembalasan yang setimpal.

 
إِنَّهُمْ كَانُواْ لَا يَرْجُونَ حِسَابًا
innahum kānụ lā yarjụna ḥisābā
[27] Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.

 
وَكَذَّبُواْ بِـَٔـايَـٰتِنَا كِذَّابًا
wa każżabụ bi`āyātinā kiżżābā
[28] Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.

 
وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَـٰهُ كِتَـٰبًا
wa kulla syai`in aḥṣaināhu kitābā
[29] Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu Kitab (buku catatan amalan manusia).

 
فَذُوقُواْ فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا
fa żụqụ fa lan nazīdakum illā 'ażābā
[30] Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab.

 
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
inna lil-muttaqīna mafāzā
[31] Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,

 
حَدَآئِقَ وَأَعْنَـٰبًا
ḥadā`iqa wa a'nābā
[32] (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,

 
وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا
wa kawā'iba atrābā
[33] dan gadis-gadis montok yang sebaya,

 
وَكَأْسًا دِهَاقًا
wa ka`san dihāqā
[34] dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

 
لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّٲبًا
lā yasma'ụna fīhā lagwaw wa lā kiżżābā
[35] Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun (perkataan) dusta.

 
جَزَآءً مِّن رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًا
jazā`am mir rabbika 'aṭā`an ḥisābā
[36] Sebagai balasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu,

 
رَّبِّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ٱلرَّحْمَـٰنِ‌ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا
rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumar-raḥmāni lā yamlikụna min-hu khiṭābā
[37] Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pengasih, mereka tidak mampu berbicara dengan Dia.

 
يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ صَفًّا‌ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
yauma yaqụmur-rụḥu wal-malā`ikatu ṣaffal lā yatakallamụna illā man ażina lahur-raḥmānu wa qāla ṣawābā
[38] Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar.

 
ذَٲلِكَ ٱلْيَوْمُ ٱلْحَقُّ‌ۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ مَـَٔـابًا
żālikal-yaumul-ḥaqq, fa man syā`attakhaża ilā rabbihī ma`ābā
[39] Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

 
إِنَّآ أَنذَرْنَـٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَـٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٲبَۢا
innā anżarnākum 'ażābang qarībay yauma yanẓurul-mar`u mā qaddamat yadāhu wa yaqụlul-kāfiru yā laitanī kuntu turābā
[40] Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.”